Sabtu, 26 November 2016

ISI HATI ANAK RANTAU

      Kesepian, kesendirian dan kerinduan adalah hal yang akrab dirasakan oleh kami anak rantau. Saat jauh dari orang tua, kami menyimpan permasalahan dan kerinduan kami sendiri tanpa harus bicara langsung pada mereka. Namun tidak pernah kami bagi keluh kesah yang terlalu berat itu.
Jauh dari orang tua
    kami lebih memilih menceritakan hal yang baik-baik saja. Sebab kami tidak mau permasalahan mereka di tanah rantau semakin membebani pikiran mereka.
     Selain ibu yang melahirkan, ibu juga punya frekuensi batin yang kuat dengan anaknya. Ibu bisa merasakan apa yang kami rasakan.
    Kesendirian dan kesepian adalah hal yang setiap hari kmi temui. Apakah kmi sedih? Iya, tapi ini bagian dari sebuah perjuangan Biarkan kmi simpan sendiri rindu ini dalam kesendirian.
   Tanah kelahiran yang selalu kami rindukan 
Tanah kelahiran, tunggu kelak kami mengabdi padamu. Dalam diam dan kesepian, kami para perantau punya mimpi yang sangat besar. Tentu ada pengorbanan yang akan dilakukan, salah satunya menahan rindu pada tanah kelahiran. Dan kerinduan ini akan terbayar lunas saat pulang dan mengembangkan tanah kelahiran sendiri. Tunggu saat itu tiba.

Nak, bapak ngirim uangnya telat seminggu ya? Bapak belum ada uang.

Menyisahkan uang agar mampu bertahan dikemudian hari adalah hal yang biasa dilakukan oleh kami. Namun saat tahu bahwa orang tua telat mengirimkan uang bulanan, hanya 1 kata yang bisa mewakili perasaan: pasrah. Namun tak apa, itu merupakan bagian dari proses kehidupan. Sebab, proses tidak akan pernah mengkhianati hasil.

Optimis
Semua permasalahan di tanah rantau kmi selesaikan dengan buah pikiranku sendiri. Mandiri adalah pilihan.
Saat sakit menerpa, jarang kami terus terang pada orang tua. Kami tidak mau merepotkan orang tua dengan banyak keluhan ini dan itu. Bila ditanya mengenai kabar, kami akan selalu menjawab bahwa kami selalu sehat. Kami tidak mau menambah beban pikiran orang tua. Inilah yang sebenarnya ada di hati kami anak rantau, menyelesaikan sendiri setiap ujian kerikil tajam yang menyelimuti.

Ayah dan Ibu, mentalku akan jauh lebih tangguh dari yang kalian tahu.
        Kami mungkin punya mental yang jauh lebih kuat dibanding anak yang masih tinggal bersama orang tua. Setiap permasalahan yang ada kami hadapi dengan sendiri dan mandiri. Setiap kesepian yang datang kami lawan dengan ketegaran yang hebat. Bila rindu mengetuk hati, kadang hanya tangis yang kami tahan setiap malam.

Teruntuk orang tua kmi, terimakasih telah mengizinkanku menjadi seseorang yang kuat menghadapi dunia.
    Kami menyadari bahwa kami punya orang tua yang hebat telah memberi sebuah kepercayaan besar pada kami untuk meraih kesuksesan di luar zona nyaman.

Ayah dan Ibu, terimakasih telah mempercayai kmi, Kepercayaanmu tidak akan kmi kecewakan. Janji kmi, membahagiakan kalian dengan sungguh-sungguh.

I love you

Tidak ada komentar:

Posting Komentar